globalindoinvestigasi.com
BANYUWANGI – Semangat kemerdekaan ternyata lebih kuat dari sekadar instruksi administratif. Di tengah adanya himbauan dari Muspika dan Polsek Wongsorejo untuk membatasi kerumunan demi keamanan, Kepala Desa Alasrejo, Admawianto, bersama Ketua Panitia Suwono, justru memilih jalan berani: mendengarkan detak jantung rakyat.
Sabtu (15/8/2026), pesisir Desa Alasrejo bergemuruh bukan oleh ombak, melainkan oleh derap kaki ratusan kelompok paguyuban RT/RW yang mengikuti Pawai Budaya/Karnaval HUT RI ke-81. Rute yang dimulai dari bibir pantai hingga finis di perbatasan Kramasan (Desa Wongsorejo) ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas warga tidak bisa dipenjara oleh rasa takut.
“Kami Cari Alternatif, Karena Ini Tradisi & Hak Rakyat!”
Ketua Panitia, Suwono, dengan lantang menegaskan bahwa acara ini lahir dari murni aspirasi masyarakat. “Ini sudah tradisi. Masyarakat ingin berpartisipasi lebih banyak, dan desa memfasilitasinya. Biayanya swadaya, dari kesadaran penuh warga untuk mengingat perjuangan 45. Kami tidak mau mematikan semangat itu,” ungkap Suwono.
Sikap tegas ini didukung penuh oleh Kades Admawianto. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak dan secara halus namun tegas menjelaskan posisinya: “Walaupun ada himbauan dari Muspika maupun Polsek, kami tetap mencari alternatif agar pawai budaya ini tetap terselenggara. Kami menghormati aturan, tapi kami juga menghormati hak warga untuk merayakan kemerdekaannya dengan cara yang aman dan tertib.”
Pesta Rakyat Lintas Desa: Sound System Menggelegar, Artis Banyuwangi Meriahkan
Keunikan acara ini terletak pada partisipasi lintas batas. Tetangga desa seperti Desa Sumberanyar dan Desa Wongsorejo turut larut dalam euforia, menunjukkan bahwa semangat persatuan melampaui sekat administrasi. Puluhan sound system berderet mengiringi tarian khas Indonesia, sementara kehadiran artis ibukota Banyuwangi semakin memanaskan suasana.
Sugiyarno, warga yang rumahnya berada tepat di lintasan pawai, mengungkapkan kebanggaannya. “Saya merasa bangga dan senang. Masyarakat terhibur, anak-anak gembira, dan tema Agustusan benar-benar hidup. Ini bukti bahwa gotong royong kita masih kuat!” serunya di tengah riuh rendah tepuk tangan.
PESAN MORAL DARI ALASREJO:
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin: Birokrasi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Ketika warga memiliki hasrat positif untuk merayakan identitas bangsa, tugas pemimpin adalah mengarahkannya, bukan membunuhnya.
Teruslah berkobar, wahai putra-putri Alasrejo! Kalian telah membuktikan bahwa semangat ’45 tidak pernah mati, ia hanya menunggu pemimpin yang berani menyulut apinya!



