globalindoinvestigasi.com
BANYUWANGI – Suara deburan rotan dan teriakan semangat penonton kembali memecah keheningan siang di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Pada Selasa (15/9/2026), pagelaran Ojung, tradisi adu ketangkasan khas Madura yang sarat nilai filosofis, digelar dengan meriah dan sukses menyedot perhatian ratusan warga dari lintas kabupaten, termasuk Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.
Acara ini bukan sekadar tontonan kekerasan, melainkan sebuah upaya serius untuk menghidupkan kembali warisan budaya tempo dulu yang nyaris punah. Di masa lalu, Ojung dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mendatangkan hujan saat para petani kesulitan air di musim tanam. Kini, “kekuatan” itu berubah menjadi perekat sosial dan hiburan rakyat yang menyegarkan.
Penonton Rela Jauh-Jauh Demi Tradisi Langka
Antusiasme peserta dan penonton luar biasa tinggi. Marsito, seorang warga Bondowoso, mengaku tidak keberatan menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan langsung atraksi langka ini.
“Walaupun jauh, kami hadir karena memang senang dengan gelaran Ojung. Ini jarang ditemukan, jadi sayang jika dilewatkan,” ungkapnya dengan wajah berseri di tengah kerumunan.
Senada dengan Marsito, Toyib dari Banyuputih, Situbondo, juga menyatakan kebahagiaannya. Bagi mereka, Ojung adalah bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki daya tarik kuat bagi generasi sekarang maupun lintas daerah.
Ketua Panitia: Kondusifitas dan Pelestarian Adalah Kunci
Suwono, Ketua Panitia Pelaksana, menekankan bahwa tujuan utama acara ini adalah hiburan masyarakat sekaligus penyelamatan budaya.
“Kami sengaja gelar adu ketangkasan Ojung untuk menghibur masyarakat. Yang penting acara ini bisa kondusif dan aman. Namun, yang lebih penting lagi adalah agar warisan budaya ini tidak punah ditelan zaman,” tegas Suwono.
Ia menambahkan, meskipun fungsi mistis Ojung sebagai pemanggil hujan mungkin sudah jarang dipercaya secara harfiah di era modern, nilai-nilai keberanian, sportivitas, dan kebersamaan di dalamnya tetap relevan dan perlu dilestarikan.
Dengan suksesnya gelaran kali ini, RTH Alasrejo kembali membuktikan dirinya sebagai ikon baru pelestarian budaya di Banyuwangi. Deburan rotan bukan tanda perpecahan, melainkan gema persaudaraan yang terus bergema.
Jurnalis: Kurniadi












