• Bagikan

Balai POM di Jember: “Thayyib di Era Pilihan Produk Obat dan Makanan Tanpa Batas”

Oleh: Balai POM di Jember

 

Setiap hari kita membuat keputusan tentang apa yang akan masuk ke dalam tubuh dan apa yang akan kita gunakan untuk merawat diri. Memilih obat ketika sakit, membeli pangan olahan untuk keluarga, menggunakan kosmetik, mengonsumsi suplemen kesehatan, atau mencoba obat bahan alam mungkin terlihat sebagai keputusan sederhana. Namun, di balik setiap pilihan terdapat satu pertanyaan penting: apakah yang kita pilih benar-benar baik bagi kita?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan perilaku konsumen. Kehadiran marketplace dan media sosial membuat berbagai produk semakin mudah ditemukan oleh masyarakat. Informasi mengenai produk pun dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Foto yang menarik, testimoni pengguna, jumlah pengikut, hingga klaim yang terdengar meyakinkan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli suatu produk.

Di tengah situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membeli produk. Kita membutuhkan kemampuan memilih dengan pertimbangan komprehensif.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi ruang untuk kembali merefleksikan salah satu nilai penting dalam kehidupan, yaitu thayyib. Dalam pemaknaan sederhana, thayyib merujuk pada sesuatu yang baik. Nilai ini menjadi relevan ketika diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam menentukan produk yang dikonsumsi dan digunakan sehari-hari.

Memilih yang thayyib berarti tidak berhenti pada pertanyaan apakah suatu produk terlihat baik, populer, atau sedang banyak digunakan. Ada pertimbangan yang lebih jauh: apakah produk tersebut aman, memiliki mutu yang baik, memberikan manfaat sesuai peruntukannya, dan digunakan dengan cara yang tepat?

Memilih Produk Berbahan Alami Dengan Cerdas

Salah satu contoh dapat ditemukan pada semakin populernya produk berbahan alam. Label “alami” sering kali membentuk persepsi bahwa suatu produk pasti aman. Padahal, sesuatu yang berasal dari alam tetap dapat memiliki kandungan aktif yang menimbulkan efek tertentu apabila digunakan secara tidak tepat.

Karena itu, masyarakat perlu tetap kritis ketika memilih obat bahan alam. Informasi mengenai produk, izin edar, aturan penggunaan, serta klaim yang ditawarkan perlu diperhatikan. Jangan sampai kata “alami” membuat kewaspadaan justru berkurang.

Hal yang sama berlaku ketika seseorang menggunakan obat. Pengalaman orang lain belum tentu dapat dijadikan dasar untuk menentukan obat yang tepat bagi diri sendiri. Setiap obat memiliki tujuan penggunaan dan aturan tertentu. Menggunakan obat secara sembarangan, apalagi hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari media sosial, bukanlah bentuk ikhtiar yang bijaksana.

Klaim Jangan Mengalahkan Pertimbangan

Tantangan serupa juga muncul pada suplemen kesehatan. Berbagai produk ditawarkan dengan klaim yang beragam, mulai dari membantu menjaga kebugaran hingga mendukung fungsi tubuh tertentu. Keinginan untuk mendapatkan manfaat kesehatan secara cepat dapat membuat masyarakat lupa bahwa suplemen bukan pengganti pola makan bergizi dan gaya hidup sehat.

Dalam memilih kosmetik, persoalannya dapat menjadi lebih kompleks. Keinginan mendapatkan hasil yang cepat sering kali dimanfaatkan melalui berbagai klaim pemasaran. Padahal, perubahan yang instan seharusnya tidak membuat konsumen mengabaikan keamanan produk.

Sementara itu, pangan olahan adalah produk yang paling dekat dengan kehidupan kita. Setiap hari kita makan dan minum, baik di rumah maupun di luar rumah. Keamanan pangan olahan bukan sekadar persoalan industri atau pemerintah, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama. Pangan olahan yang baik harus mampu memberikan manfaat tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan ketika diproduksi, disimpan, diolah, dan dikonsumsi dengan benar.

Lima kelompok produk tersebut memang berbeda karakteristik. Namun, semuanya mempertemukan kita pada satu persoalan yang sama: bagaimana memastikan pilihan kita benar-benar memberikan kebaikan?

Menjadi Konsumen yang Tidak Mudah Terbujuk

Di sinilah masyarakat memiliki peran yang sangat penting. Perlindungan konsumen tidak hanya dibangun melalui pengawasan terhadap produk yang beredar, tetapi juga melalui konsumen yang memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Badan Pengawas Obat dan Makanan, khususnya Balai POM di Jember dengan wilayah kerja di Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang dan Situbondo memiliki peran dalam pengawasan obat, obat bahan alam, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan sesuai dengan kewenangannya. Namun, pengawasan pemerintah akan semakin kuat apabila masyarakat ikut menjadi bagian dari mata rantai pengawasan tersebut.

Konsumen dapat memulainya dari kebiasaan sederhana: Cek KLIK—Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.

Sebelum membeli, perhatikan apakah kemasan masih dalam kondisi baik. Baca informasi pada label. Pastikan izin edar sesuai dengan jenis produknya. Jangan lupa memeriksa tanggal kedaluwarsa. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan semata-mata berdasarkan tren atau bujukan iklan.

Lebih jauh lagi, masyarakat perlu belajar membedakan antara informasi dan klaim. Tidak semua informasi yang viral merupakan informasi yang benar. Tidak semua testimoni merupakan bukti bahwa suatu produk cocok untuk semua orang. Dan tidak semua produk yang sedang populer merupakan pilihan yang tepat bagi setiap individu.

Maulid dan Tanggung Jawab Memilih

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak hanya menghadirkan suasana peringatan, tetapi juga menghidupkan nilai keteladanan dalam kehidupan nyata.

Menjaga diri merupakan bagian dari ikhtiar, menjaga keluarga juga merupakan bentuk tanggung jawab. Dalam konteks kehidupan masa kini, salah satu wujudnya dapat dilakukan melalui keputusan yang tampak sederhana, yaitu lebih teliti ketika memilih produk yang akan dikonsumsi atau digunakan.

Thayyib pada akhirnya bukan sekadar istilah yang indah, namun dapat menjadi cara pandang dalam menjalani kehidupan, yaitu tidak terburu-buru memilih, tidak mudah percaya pada klaim, dan tidak mengabaikan pertimbangan keamanan serta manfaat.

Di era ketika pilihan semakin banyak dan informasi semakin deras, menjadi konsumen yang cerdas bukan berarti selalu memilih produk yang paling mahal atau paling populer. Menjadi konsumen yang cerdas berarti mampu bertanya sebelum membeli, memeriksa sebelum menggunakan, dan mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan.

Mungkin inilah salah satu cara sederhana untuk menghadirkan semangat Maulid Nabi dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar memilih yang baik, menggunakan dengan bijak, dan menjaga diri serta keluarga melalui setiap keputusan yang kita ambil.

Sebab, thayyib tidak hanya berbicara tentang apa yang kita pilih, thayyib juga berbicara tentang bagaimana kita memilih.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *