TERHIRUP RACUN HITAM! Debu Limbah Batubara Bali Mencekik Warga Wonorejo, Kades Akui “Izinkan Demi Jalan Rata” Tapi Abai Bahaya Kesehatan & Irigasi

  • Bagikan
IMG 20260909 WA0077

globalindoinvestigasi.com

SITUBONDO – Situasi di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, kian mencekam. Polemik pembuangan puluhan kubik limbah batubara dari Bali di area pemakaman umum kini berbuah petaka nyata: polusi udara beracun. Warga yang melintas di akses jalan makam dipaksa menahan napas karena deburan debu hitam pekat yang membumbung setiap kali ada kendaraan lewat atau angin kencang.

Fakta mengejutkan terungkap: tumpukan tanah urug di atas limbah tersebut bukanlah perbaikan jalan biasa, melainkan kedok untuk menyembunyikan barang bukti pencemaran lingkungan. Karena tanah urug tidak menyatu dengan limbah batubara di bawahnya, partikel halus racun industri itu mudah terlepas ke udara.

Warga Sakit Tenggorokan, Alat Berat “Pembersih Jejak”

Seorang warga, Hasan, menceritakan penderitaannya saat terpaksa melintas di lokasi tersebut. “Saya terpaksa menutup muka dan menahan napas sejenak. Pernah sekali terhisap, tenggorokan langsung kering, sakit, dan batuk-batuk terus,” keluhnya.

Warga lain, Halimah, menyaksikan sendiri modus operandi pelaku. Ia melihat alat berat berukuran besar—bukan truk kecil biasa—meratakan bukaan limbah selama tiga hari pada akhir Agustus 2026. “Itu dumptruk besar khas pertambangan. Mereka meratakannya agar terlihat seperti tanah biasa,” ungkap Halimah curiga.

Lokasi pembuangan yang strategis, tepat di depan makam dan tepian saluran irigasi pertanian, menambah kekhawatiran akan residu kimia yang bisa meresap ke sumber air warga.

Kades: “Saya Tidak Tahu Limbah Itu Berbahaya”

Respons Kepala Desa (Kades) Wonorejo, Sumarto Adi, menuai kritik pedas. Ia membenarkan memberikan izin kepada warga bernama Mus untuk membuang material tersebut dengan dalih ketiadaan anggaran desa untuk perbaikan jalan makam yang rusak.

“Kami tidak memiliki dana… jadi tujuannya untuk meratakan jalan saja mumpung ada urukan,” alasan Sumarto Adi.

Namun, ketika ditanya soal dampak kesehatan dan lingkungan, jawabannya justru memperlihatkan kelalaian fatal seorang pemimpin desa:
“Memang limbah batubara itu berbahaya ya? Saya tidak tahu terkait hal itu karena saya hanya fokus bagaimana jalan yang rusak itu bisa diperbaiki,” tandasnya polos di ruang kerja.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepentingan estetika jalan ditempatkan di atas keselamatan nyawa warganya.

Pelaku Kabur, Istri Suruh Cek Lokasi

Upaya konfirmasi terhadap Mus, sosok kunci yang diduga menginisiasi pembuangan limbah dari Bali ini, menemui jalan buntu. Saat wartawan mendatangi kediamannya, seorang wanita yang diduga istrinya hanya memberi jawaban mengelak: “Bapak sedang keluar… Coba saja cek ke lokasi penimbunan tanah urug di dekat minimarket.”

Dengan Kades yang abai, pelaku yang sulit ditemui, dan debu hitam yang terus menggerogoti paru-paru warga, Desa Wonorejo kini berada dalam keadaan darurat lingkungan. Publik mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan Kepolisian segera mengambil sampel udara serta tanah sebelum kerusakan permanen terjadi pada ekosistem pertanian dan kesehatan masyarakat.

Jurnalis: Kurniadi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *