MOBIL DESA: AMBULANS WARGA ATAU MOBIL PRIBADI PEJABAT? Warga Diminta Cermat Cek 6 Indikator Ini Sebelum Diam Saja!

  • Bagikan
Oplus
Oplus_131072

globslindoinvestgsi.com

BANYUWANGI – Suara mesin mobil dinas desa sering kali terdengar gagah di jalanan. Namun, pernahkah Anda bertanya: Siapa yang sebenarnya sedang duduk di belakang kemudi? Apakah itu petugas kesehatan yang bergegas menolong warga sakit, atau justru pejabat desa yang sedang mengurus urusan pribadi?

Di tengah transparansi anggaran yang semakin digencarkan, penggunaan kendaraan operasional desa menjadi sorotan utama. Banyak warga merasa curiga ketika melihat mobil aset desa parkir di rumah pribadi, digunakan untuk acara keluarga, atau bahkan dibawa liburan. Untuk membongkar kejanggalan ini, publik diajak untuk tidak lagi “masa bodoh” dan mulai memeriksa 6 Indikator Kunci berikut:

6 TANDA TANYA YANG HARUS DIJAWAB WARGA:

1. Status Aset: Apakah mobil tersebut benar-benar tercatat dalam Inventaris Kekayaan Desa? Atau hanya “hantu” yang ada fisik tapi tidak ada dokumen?
2. Tujuan Pengadaan: Cek APBDes dan RKPDes! Apakah dana ratusan juta itu dialokasikan untuk pelayanan kesehatan/darurat, atau sekadar gengsi kantor?
3. Aturan Main (SOP): Apakah ada Peraturan Desa (Perdes) atau SOP tertulis tentang siapa yang berhak meminjam? Atau semua tergantung “lampu hijau” dari Kepala Desa?
4. Jejak Digital (Log book): Minta lihat buku log! Siapa yang memakai, jam berapa, dan ke mana tujuannya? Jika log book kosong atau diisi asal-asalan, itu tanda bahaya.
5. Siapa yang Bayar? BBM, servis rutin, pajak, dan ban bocor—apakah dibayar dari kas desa atau kantong pribadi pejabat? Jika kas desa yang menanggung usage pribadi, itu sama dengan korupsi terselubung.
6. Kepentingan Nyata: Saat mobil melintas, apakah sedang mengantar ibu hamil ke bidan? Atau sedang mengantar anak kepala desa ke sekolah swasta?

“Jangan Biarkan Uang Rakyat Jadi Bensin Kepentingan Pribadi!”

Pertanyaan besarnya: Apakah mobil desa yang pengadaannya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) benar-benar dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat, terutama sektor krusial seperti kesehatan? Atau justru telah berubah fungsi menjadi “mobil mewah” bagi oknum tertentu?

Kami mengajak seluruh warga untuk berdiskusi secara santun namun tegas. Jika Anda memiliki pengalaman atau bukti foto/video penggunaan mobil desa untuk kepentingan pribadi, sampaikan di kolom komentar atau laporkan melalui saluran pengaduan yang tersedia.

Mari jaga aset desa bersama. Karena setiap liter bensin yang terbuang untuk urusan pribadi adalah hak warga yang dicuri.

( Kur )

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *