globalindoinvestigasi.com
BANYUWANGI – Pepatah “darah lebih kental dari air” tampaknya runtuh di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo. Bukan karena cinta kasih, melainkan karena dendam bisnis jual beli daun tembakau yang membusuk, dua pasangan kerabat dekat ini hampir saling membunuh.

Seorang warga bernama Tolak harus melapor ke Polsek Wongsorejo pada Rabu (29/7/2026) setelah nyawanya melayang-layang di ujung celurit milik tetangganya sendiri, Bambang Sutrisno. Yang lebih miris, keduanya terikat tali kekeluargaan: Istri Tolak, Kartika, adalah adik kandung dari istri Bambang, Suciati.
Detik-Detik Mencekam: Celurit Tersembunyi di Balik Baju
Kronologi kejadian berlangsung cepat dan mengerikan. Tolak menceritakan bahwa ia tiba-tiba didatangi oleh Bambang. Saat didekati, Bambang tidak datang dengan tangan kosong, melainkan mengeluarkan senjata tajam jenis celurit yang ia sebut sebagai “celurit penghabisan”.
“Celuritnya sudah jelas diangkat ke atas. Sepertinya dia sengaja menyembunyikannya dalam baju sebelum menghampiri saya,” ujar Tolak dengan nada masih gemetar kepada
Beruntung, niat buruk tersebut digagalkan oleh warga sekitar yang sigap melerai sebelum darah tumpah. Namun, trauma mendalam telah tertanam. “Nyawa saya terasa terancam setiap saat. Dia sudah pernah mengancam sebelumnya, apa jaminan dia tidak akan melakukannya lagi?” tanya Tolak penuh kekhawatiran.
Pengakuan Terbuka: “Ada Masalah, Makanya Bawa Senjata”
Di ruang mediasi Polsek Wongsorejo, terlapor Bambang Sutrisno tidak menampik fakta tersebut. Dengan dingin, ia mengakui membawa celurit karena adanya perselisihan.
“Karena memang ada masalah, makanya saya bawa. Tapi sekarang saya tidak tahu di mana celurit itu, karena sudah diambil orang yang memisahkan kami,” bantah Bambang, seolah meremehkan bahaya senjata mematikan yang ia bawa ke tengah pemukiman.
Kepala Dusun Pancoran, Edi Sucipno, membenarkan adanya ketegangan yang berbau “carok” tradisi duel maut di Madura/Banyuwangi). “Informasi awalnya adalah carok. Saya langsung ke lokasi, tapi saat sampai semua sudah bubar,” tandasnya.
Akar Masalah: Bisnis Tembakau yang Meracuni Hubungan Darah
Kanit Reskrim Polsek Wongsorejo, Aipda Oktorio Wisnu Pradana, memastikan laporan telah diterima dan sedang diselidiki. Kapolsek Wongsorejo, AKP Eko Darmawan, menegaskan bahwa kasus ini berawal dari sengketa bisnis daun tembakau antara dua bersaudara kandung (istri pelapor dan istri terlapor) yang kini merembet hingga melibatkan suami-suami mereka.
Perselisihan ekonomi yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin, justru berubah menjadi ancaman pembunuhan berkedok kerabat.
HIMBAUAN TEGAS:
1. Jangan Mainkan Nyawa: Membawa senjata tajam seperti celurit ke area pemukiman adalah tindakan kriminal yang mengancam keselamatan umum, terlepas dari alasan “masalah pribadi”.
2. Selesaikan Secara Hukum & Kekeluargaan: Sengketa bisnis harusnya dibawa ke meja musyawarah atau jalur hukum perdata, bukan dengan adu jago dan senjata.
3. Peringatan Bagi Warga: Waspadai potensi konflik horizontal yang dipicu oleh masalah ekonomi. Jika melihat gelagat mencurigakan, segera lapor ke aparat sebelum terlambat.
Polisi kini tengah mendalami kasus ini untuk mencegah terulangnya aksi nekat yang bisa berakhir dengan tragedi kemanusiaan.




