Gus Fawait Beberkan Misi Humanis di Balik Program Homecare

SBvboRCmrOWS4W253fyK1j9T5lQdSDnV4tQTuhLM
Jember,globalindoinvestigasi.com – Di sudut-sudut desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Kabupaten Jember, deru roda kehidupan sering kali terhenti oleh rasa sakit. Bagi warga berkecukupan, memanggil dokter ke rumah atau berkonsultasi ke klinik spesialis adalah perkara lumrah. Namun, bagi keluarga kurang mampu, sebuah penyakit kronis bukan sekadar cobaan fisik, melainkan krisis ekonomi yang sanggup meruntuhkan seluruh fondasi dapur mereka.
Kesenjangan inilah yang memicu gagasan besar di balik peluncuran program Homecare oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Diprakarsai langsung oleh Bupati Jember, Gus Fawait, program ini bukan sekadar sekumpulan unit mobil medis atau formalitas birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar mendasar untuk menghadirkan keadilan sosial secara nyata di tengah-tengah pemukiman warga.

Gagasan menghadirkan tenaga medis langsung ke pintu rumah warga miskin tidak lahir di atas kertas kerja kantor pemerintahan, melainkan terpatri dari ingatan masa kecil Gus Fawait. “Tumbuh besar sebagai anak desa, saya kerap menyaksikan kenyataan pahit yang dihadapi para tetangga saat diterpa penyakit,” ungkapnya.

Meskipun pemerintah dari dulu menyediakan Surat Keterangan Miskin (SKM), Gus Fawait menuturkan bahwa masih banyak warga desa tetap tidak bisa berobat. “Bukan karena tidak mau, tapi mereka memang tidak punya ongkos untuk pergi ke rumah sakit atau puskesmas. Saat tulang punggung keluarga sakit, keluarga yang ditinggalkan pun kehilangan penghasilan untuk makan,” tutur Gus Fawait.

Pengalaman tersebut menyadarkan bahwa jaminan kesehatan gratis di fasilitas medis belum cukup jika akses fisiknya masih sulit dijangkau. Oleh karena itu, melalui program Homecare, pemerintah mengubah paradigma bahwa bukan lagi rakyat miskin yang tertatih-tatih mencari pengobatan, melainkan negara yang aktif mendatangi rumah mereka.

Gus Fawait menegaskan bahwa alur operasional Homecare dirancang agar komprehensif. Ketika tim medis berkunjung, para tenaga kesehatan (nakes) akan melakukan pemeriksaan kondisi dasar pasien secara seksama.

“Apabila dibutuhkan penanganan medis tingkat lanjut, nakes di lapangan tidak perlu memindahkan pasien secara terburu-buru. Mereka memanfaatkan jaringan telemedicine melalui sambungan panggilan video langsung dengan dokter spesialis atau sub-spesialis dari tiga rumah sakit daerah (RSD Dr. Soebandi, RSUD Kalisat, dan RSUD Balung),” lanjutnya.

Setelah diagnosis dirumuskan secara virtual, obat-obatan yang dipesan akan diantarkan langsung oleh pihak rumah sakit ke kediaman warga. Seluruh proses ini ditopang oleh kesiapan infrastruktur dan sumber daya yang matang:

“Kami merekrut dan mengagendakan tugas lebih 1.200 nakes tanpa mengganggu operasional reguler puskesmas dan rumah sakit,” terang Gus Fawait. Termasuk melibatkan sekitar 160 dokter umum, spesialis, hingga sub-spesialis.

“Kami juga mengoptimalkan kendaraan operasional OPD yang sudah ada tanpa perlu pengadaan mobil baru yang boros anggaran,” katanya. Meskipun keaktifan BPJS/UHC warga Jember telah mencapai 80 persen, warga yang belum terkaver tetap dijamin mendapatkan layanan Homecare secara cuma-cuma.

Lebih lanjut, Gus Fawait menyatakan bahwa ada satu hal yang membedakan Homecare dari program kesehatan biasa adalah pendekatannya yang holistik. “Pemerintah Kabupaten Jember menyadari betul bahwa masalah kesehatan berikatan erat dengan kemiskinan. Sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam pengetasan kemiskinan, Homecare dirancang untuk membawa dampak ganda,” imbuhnya.

Saat melakukan pemeriksaan medis, tim Homecare yang bersinergi dengan Dinas Sosial juga mengevaluasi kondisi ketahanan pangan dan kelayakan tempat tinggal keluarga yang dikunjungi. Ketika mendapati kepala keluarga yang menderita sakit berkepanjangan, pemerintah menyalurkan bantuan sembako untuk menjaga ketahanan gizi harian mereka.

Tercatat, ada sebanyak 5 prioritas utama sasaran Homecare. Mulai lansia tunggal, anak yang terindikasi stunting, ibu hamil risiko tinggi, penyandang disabilitas, dan warga miskin ekstrem.

Untuk menjangkau warga di luar lima prioritas utama tersebut, Pemkab Jember juga membuka kanal pengaduan langsung melalui Hotline Wadul Gus. Informasi kontak ini disebarkan melalui media sosial, portal berita, banner, hingga kendaraan operasional Homecare.

Melalui skema ini, program Homecare diharapkan tak hanya menyembuhkan raga yang sakit, tetapi juga mencegah warga rentan jatuh ke jurang kemiskinan akibat krisis kesehatan. “Inilah wujud konkret kehadiran negara dalam memastikan setiap warga negara tanpa memandang status sosial guna mendapatkan hak dasar atas pelayanan kesehatan yang layak dan bermartabat,” tandasnya.

Exit mobile version