Daerah  

Hentikan “Pesta Horeg” di Bulan Kemerdekaan! Warga Wongsorejo Tolak Karnaval Berkedok Budaya, Tegaskan: Rayakan RI ke-81 dengan Martabat, Bukan Joget-Joget Sembarangan!

kurniadi280367
IMG 20260803 WA0010

globalindoinvestigasi.com

BANYUWANGI – Gelombang penolakan keras bergema di Kecamatan Wongsorejo jelang puncak peringatan HUT RI ke-81. Masyarakat setempat dengan lantang menolak rencana karnaval yang diduga kuat akan berubah menjadi ajang pamer sound system “horeg” dan joget-jogetan vulgar, alih-alih sebuah pawai budaya yang sarat makna sejarah.

Melalui berbagai platform media sosial, warga menyuarakan semangat “Kembali ke Akar Budaya”. Mereka menegaskan bahwa kemerdekaan adalah momen sakral untuk menghormati jasa pahlawan, bukan waktu untuk pesta hura-hura yang merusak tatanan sosial dan menciderai rasa kebangsaan.

Suara Rakyat: “Kami Mau Budaya, Bukan Kebisingan!”

Pada Senin (3/8/2026), sejumlah akun komunitas warga Wongsorejo ramai membagikan seruan agar pemerintah daerah segera meluruskan konsep karnaval tahun ini.

“Lestarikan budaya, hormati sejarah, rayakan kemerdekaan dengan bermartabat. Jangan justru menggunakan sound horeg yang bikin telinga sakit dan isinya cuma joget-joget tidak jelas,” tulis salah satu unggahan viral yang diamini ratusan warga lainnya.

Penolakan ini muncul karena trauma terhadap acara-acara sebelumnya yang sering kali berakhir ricuh, macet total, dan penuh dengan unsur komersialisme berlebihan yang jauh dari semangat perjuangan 1945.

Semangat 45: Kemenangan Atas Diri Sendiri

Masyarakat Wongsorejo mengingatkan bahwa esensi dari semangat 45 adalah disiplin, pengorbanan, dan cinta tanah air. Mengganti arak-arakan bendera merah putih dengan konvoi mobil suara berkekuatan ribuan watt dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai luhur bangsa.

“Jika ingin karnaval, tampilkan barisan drum band sekolah, tari tradisional, atau reka adegan perjuangan. Itu yang membangun karakter generasi muda. Bukan sekadar gemuruh bass yang membuat rumah warga bergetar,” tambah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Kekosongan Konfirmasi Pemerintah: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Pemerintah Kecamatan Wongsorejo terkait protes massal ini. Keheningan aparatur semakin memicu kecurigaan bahwa agenda karnaval mungkin masih dikendalikan oleh kepentingan segelintir oknum penyelenggara, bukan demi kepentingan publik.

TUNTUTAN TEGAS WARGA:
1. Revisi Total Konsep Karnaval: Hapus segala elemen sound horeg dan ganti dengan pertunjukan seni budaya lokal Banyuwangi yang autentik.
2. Transparansi Anggaran & Izin: Publik berhak tahu siapa sponsor di balik karnaval ini. Pastikan tidak ada uang rakyat yang dipakai untuk membiayai pesta pribadi oknum tertentu.
3. Tegakkan Aturan: Jika tetap nekat menggelar karnaval berbau “horeg”, aparat kepolisian dan pemda wajib membubarkannya demi ketertiban umum dan penghormatan terhadap bulan suci kemerdekaan.

Warga Wongsorejo telah bicara: Kami ingin merayakan kemerdekaan dengan kepala tegak, hati bersih, dan jiwa yang merdeka dari kebisingan yang tak bermartabat