Maut Tersembunyi di Malam Hari! Leher Warga Wongsorejo Terjerat Benang Senar Layangan, 10 Jahitan Jadi Bukti Kelalaian “Hobi” yang Mematikan

kurniadi280367
Oplus
oplus_32

globalindoinvestigasi.com

BANYUWANGI – Hobi menerbangkan layang-layang kembali memakan korban. Kali ini, nyawa seorang warga hampir melayang akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab menerbangkan layangan dengan benang senar (gelasan) di atas jalan raya pada malam hari.

Korban, Marsub (55), warga Desa Wongsorejo Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi mengalami luka serius di bagian leher setelah tersangkut benang layang-layang yang melintang di Jalan Nasional. Insiden mengerikan itu terjadi pada Jumat malam (23/7/2026), di sekitar area Jeruk An, Desa Alasbuluh.

Kronologi Mencekam: Tak Terlihat, Langsung Menggorok

Marsub menceritakan momen horor tersebut saat didatangi awak media, Sabtu (25/7/2026). Saat itu, ia baru saja keluar rumah membawa motor dari arah Utara menuju Selatan menyusuri bahu jalan nasional. Karena kondisi gelap, benang senar yang tipis dan transparan sama sekali tidak terlihat.

“Tiba-tiba ada benang layang-layang melintang di tengah jalan. Karena malam, saya tidak melihatnya. Begitu kena, rasanya seperti digorok. Saya sempat memegang leher agar tidak jatuh pingsan, tapi darah sudah mengalir deras,” kenang Marsub dengan suara masih bergetar.

Akibat insiden tersebut, Marsub harus dilarikan ke Puskesmas Wongsorejo dan mendapatkan pertolongan medis berupa 10 jahitan di bagian lehernya. Beruntung, nyawanya selamat. Namun, Marsub menyebutkan bahwa saat kejadian, ada tiga pengendara lain yang juga terkena sabetan benang tersebut, meskipun ia tidak mengetahui nasib mereka karena fokus pada lukanya sendiri.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Marsub menyuarakan kemarahan dan kekecewaannya. Ia mempertanyakan tanggung jawab para penerbang layangan yang nekat bermain di atas jalur padat penduduk dan jalan raya, apalagi di malam hari di mana visibilitas sangat minim.

“Saya berharap kepada warga yang memiliki layang-layang, jangan main sampai malam! Ketika terjadi korban seperti ini, siapa yang mau bertanggung jawab? Nyawa taruhannya,” tegas Marsub.

Ia juga mendesak pihak terkait, terutama aparat kepolisian dan pemerintah desa, untuk lebih menertibkan kegiatan ini sebelum ada korban jiwa yang benar-benar meninggal dunia.

HIMBAUAN KERAS DAN TEGAS BAGI MASYARAKAT:

Menyusul kejadian yang menimpa Marsub dan potensi korban lainnya, kami menyampaikan himbauan vital:

1. STOP Main Layangan di Atas Jalan Raya & Pemukiman Padat: Jalan nasional adalah jalur mobilitas tinggi, bukan arena bermain. Benang senar/gelasan adalah “pembunuh siluman” yang bisa memutuskan napas atau pembuluh darah dalam hitungan detik.
2. Dilarang Keras Bermain di Malam Hari: Visibilitas nol membuat benang tidak terlihat. Ini sama saja dengan memasang perangkap maut bagi pejalan kaki dan pengendara motor.
3. Gunakan Benang Ramah Lingkungan: Jika ingin bermain, gunakan benang biasa (tanpa lapisan kaca/kawat) dan lakukan di lapangan terbuka yang jauh dari jalan, kabel listrik, dan rumah warga.
4. Aparat Harus Tegas: Polsek Wongsorejo dan Pemerintah Desa diminta melakukan patroli rutin dan memberikan sanksi tegas (tilang atau penyitaan alat) bagi pelanggar. Jangan tunggu ada yang meninggal baru bertindak!

Keamanan bersama adalah tanggung jawab kita semua. Jangan biarkan kesenangan sesaat menjadi penyesalan seumur hidup bagi keluarga korban.