glibalinvestigasi.com
BANYUWANGI – Ikatan darah ternyata tidak selalu menjadi tameng dari kekerasan. Sebuah insiden mengerikan terjadi di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo, yang melibatkan dua pasangan suami istri yang sebenarnya masih terikat tali persaudaraan erat. Konflik bisnis tembakau yang memanas berujung pada percobaan penganiayaan dengan senjata tajam jenis celurit penghabisan.
Pelapor, Tolak, nyaris kehilangan nyawanya saat bertemu dengan terlapor, Bambang Sutrisno, pada Rabu (29/7/2026) malam. Ironisnya, Bambang adalah suami dari Suciati, yang merupakan adik kandung dari istri Tolak, Kartika. Artinya, pelaku dan korban adalah kakak dan adik ipar yang seharusnya saling menjaga.
Kronologi Mencekam: Dari Diskusi Bisnis Jadi Ancaman Nyawa
Pertemuan itu awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa bisnis jual beli daun tembakau yang telah berlangsung lama antara kedua saudara kandung tersebut. Namun, suasana berubah mencekam ketika Bambang diduga tiba-tiba mengeluarkan celurit penghabisan dan mengacungkannya ke arah Tolak.
“Saya langsung menghindar dan menjauh karena Su (Bambang) tiba-tiba mengeluarkan celurit penghabisan dan diacungkan pada saya,” aku Tolak dengan nada masih gemetar.
Beruntung, aksi nekat Bambang tidak berlanjut menjadi pembunuhan berkat sigapnya warga sekitar yang langsung mengamankan pelaku dan menyita senjata tajam tersebut.
Penyidik Reskrim Polsek Wongsorejo Gerak Cepat
Menanggapi laporan resmi yang masuk, Penyidik Reskrim Polsek Wongsorejo langsung bergerak cepat. Pada Rabu (29/7/2026), pelapor dan saksi mata telah diperiksa secara intensif untuk merekonstruksi kronologis lengkap.
Sepekan berselang, pada Jumat (7/8/2026), giliran terlapor, Bambang Sutrisno, yang dipanggil untuk memberikan keterangan. Kapolsek Wongsorejo, AKP Eko Darmawan, melalui Kanit Reskrim, Aipda Oktorio Wisnu Pradana, menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap terlapor telah selesai dilakukan.
“Hasilnya bagaimana, nanti akan diketahui saat gelar perkara. Kami akan proses sesuai bukti-bukti yang ada,” tegas Aipda Oktorio.
Saat dikonfirmasi, Bambang mengaku bingung keberadaan celuritnya setelah kejadian. “Tidak tahu sekarang celuritnya di mana? Setelah saya keluarkan, langsung diambil oleh warga yang memegangi saya,” tuturnya polos.
Peringatan Keras: Jangan Biarkan Bisnis Merusak Tali Silaturahmi
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang membiarkan urusan harta dan bisnis menggerogoti hubungan kekeluargaan. Celurit penghabisan, senjata yang dikenal mematikan, seharusnya tidak pernah muncul dalam sebuah diskusi keluarga.
Polisi kini tengah melengkapi berkas untuk dilimpahkan ke kejaksaan. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mempercayakan proses hukum kepada aparat, sambil mengambil hikmah agar tidak mudah terpancing emosi hingga merugikan diri sendiri dan orang terdekat.




