globalindoinvestigasi.com
BANYUWANGI – Suasana hening dan sepi dari nuansa patriotisme terasa mencekam di Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Jelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Kantor Desa Bengkak justru terlihat “kosong” dari dekorasi merah-putih, umbul-umbul, atau atribut kemerdekaan lainnya. Kondisi ini kontras dengan desa-desa tetangga yang sudah bersolek meriah.
Ketiadaan simbol nasionalisme di pusat pemerintahan desa ini dinilai sebagai bentuk kelalaian fatal dalam menjalankan fungsi sosial dan kultural sebagai pemimpin masyarakat. Akibatnya, efek domino terjadi: warga menjadi enggan memasang bendera di rumah masing-masing karena merasa tidak didukung oleh aparaturnya sendiri.
Suara Hati Warga: “Kok Mau Pasang Bendera, Kalau Kantornya Saja Biasa Saja?”
Seorang warga Desa Bengkak yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekecewaan mendalam saat ditemui pada Minggu (2/8/2026). Menurutnya, sikap pasif Pemerintah Desa (Pemdes) telah membunuh semangat gotong royong dalam memeriahkan hari besar bangsa.
“Kami bingung, kok warga mau ikut pasang bendera merah putih, wong kantor desanya saja sudah kayak bukan kantor pemerintahan? Sepi, tidak ada nuansa sama sekali. Rasanya seperti kami tinggal di daerah yang lupa sejarah,” ucap warga tersebut dengan nada pedas.
Ia menambahkan, jalanan desa yang biasanya ramai dengan hiasan tahun-tahun sebelumnya, kini tampak suram. “Ini bukan soal anggaran, tapi soal niat dan rasa memiliki. Jika pemimpinya saja cuek, bagaimana rakyatnya bisa bersemangat?” tambahnya.
Jiwa Nasionalisme Tidak Bisa Ditawar
Para pengamat sosial menilai, peran Kepala Desa bukan hanya mengurus administrasi tanah atau surat-menyurat, tetapi juga menjadi motor penggerak moral masyarakat. Kegagalan menampilkan simbol-simbol kemerdekaan di kantor desa dapat diinterpretasikan sebagai ketidakpedulian terhadap nilai-nilai luhur perjuangan bangsa.
Dalam konteks HUT RI ke-81, di mana tema penguatan identitas nasional sangat krusial, sikap “bisu” dari Pemdes Bengkak menjadi catatan hitam yang harus segera dikoreksi. Masyarakat berhak mendapatkan kepemimpinan yang mampu menginspirasi, bukan yang justru memadamkan api semangat.
TUNTUTAN TEGAS:
1. Segera Lakukan Dekorasi Minimalis: Jika anggaran terbatas, setidaknya pasang bendera dan spanduk ucapan HUT RI sebagai bentuk penghormatan dasar. Ini bukan soal mewah, tapi soal eksistensi.
2. Konfirmasi dan Permintaan Maaf: Pejabat Sementara (Pj.) Kades Bengkak, Suryanto, diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi. Apakah ini kelalaian teknis atau memang tidak ada program perayaan? Publik menunggu jawaban.
3. Bangkitkan Partisipasi Warga: Pemdes harus segera turun ke dusun-dusun untuk mengajak warga bergotong royong menghiasi lingkungan, meski terlambat, daripada membiarkan desa tetap dalam kesepian yang memalukan.
Jangan biarkan Desa Bengkak dikenang sebagai desa yang “lupa” merayakan kemerdekaannya sendiri. Nasionalisme dimulai dari hal sederhana: mengibarkan bendera dengan bangga!




