Daerah  

Pemerintah Tidur, Petani Terpaksa “Banting Setir”! Harga Cabai Anjlok Tak Menentu, Petani Wongsorejo Ganti Tanam Semangka & Pisang: Ini Bukan Pilihan, Tapi Jeritan Kelangsungan Hidup

Screenshot 2026 07 20 14 16 39 50 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

globalindoinvestigasi.com

BANYUWANGI – Kritik pedas kembali dilontarkan oleh para petani di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Ketidakmampuan pemerintah daerah maupun pusat dalam menstabilkan harga komoditas pertanian, khususnya cabai, telah memaksa ribuan petani mengambil langkah drastis: alih fungsi lahan secara massal.

Pada Senin (20/7/2026), di tengah terik matahari di lokasi pertaniannya, Haji Saipul (petani asal Wongsorejo) dan Sugiono (petani asal Alasbuluh) tidak lagi menyembunyikan kekecewaan mereka. Lahan yang seharusnya hijau oleh tanaman cabai kini mulai diganti dengan semangka, melon, bawang, bahkan pisang Kepok/Kafendis. Perubahan ini bukan karena tren gaya hidup, melainkan bentuk protes sekaligus strategi survival akibat harga cabai yang fluktuatif dan sering kali jauh di bawah biaya produksi.

Kritik Tajam: Di Mana Peran Stabilisasi Harga?

“Harga cabai itu seperti judi. Hari ini bisa tinggi, besok anjlok hingga membuat kami rugi total. Pemerintah seolah tutup mata. Kami butuh kepastian, bukan sekadar janji stabilisasi saat panen raya saja,” ujar Haji Saipul dengan nada geram.

Ketidakpastian harga ini menunjukkan lemahnya instrumen pengendali pasar yang dimiliki pemerintah. Petani dibiarkan bertarung sendiri melawan tengkulak dan mekanisme pasar yang tidak adil. Akibatnya, ketahanan pangan lokal justru terancam karena banyak lahan produktif cabai beralih menjadi tanaman hortikultura lain yang dianggap lebih “aman” secara ekonomi, meski risikonya tetap ada.

Alih Fungsi Massal: Tanda Bahaya Bagi Kedaulatan Pangan Lokal

Sugiono, petani dari Alasbuluh, menambahkan bahwa penanaman pisang Kafendis dan semangka adalah jalan terakhir. “Kalau terus memaksakan tanam cabai dengan harga segitu, kami cuma akan menumpuk utang. Akhirnya, kami pilih tanam apa yang kira-kira uangnya balik modal cepat, walau itu berarti mengurangi stok cabai di pasar lokal,” jelasnya.

Fenomena ini seharusnya menjadi alarm keras bagi Dinas Pertanian dan Pemkab Banyuwangi. Jika petani terus-menerus dipaksa alih fungsi karena ketidakberdayaan menghadapi harga, maka ketika permintaan cabai melonjak, daerah ini akan bergantung pasokan dari luar, yang pada akhirnya juga rentan terhadap inflasi.

Tuntutan Petani: Intervensi Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Para petani menuntut:
1. Jaminan Harga Dasar: Pemerintah harus menetapkan dan mengawal harga pembelian minimum yang layak bagi petani.
2. Subsidi Input Pertanian: Bantuan pupuk dan bibit harus tepat sasaran untuk menekan biaya produksi.
3. Kemitraan Langsung: Memfasilitasi penjualan langsung ke pasar induk atau industri pengolahan tanpa perantara tengkulak yang memainkan harga.

Pemerintah jangan hanya sibuk dengan acara seremonial. Turunlah ke sawah, dengarkan keluh kesah Haji Saipul dan Sugiono. Jika harga cabai tidak dikendalikan, jangan salahkan petani jika lumbung cabai Wongsorejo perlahan-lahan berubah menjadi ladang semangka. Ini adalah dampak nyata dari kebijakan yang abai terhadap nasib produsen pangan utama.

 

 

Exit mobile version